Emang Blog

Posts Tagged ‘PPI Saga

Saya jadi pengen nulis ini setelah baru-baru ini mendengar 2 buah statemen setengah bertanya yang sangat menggelikan, polos tetapi memilukan, yang terucap dari dua orang berbeda langsung kepada saya.

Pertama, dari salah satu anak SPACE (semacam program pertukaran pelajar):
“Lho Pak F itu orang Indonesia ya? Saya kirain orang Malaysia, soalnya kalau ketemu pas pakai peci terus”.. wakakakakak.. kamu udah 6 bulan disini gak tau kalau beliau itu orang Indonesia? deuh.. KDL..

Kedua, dari salah satu bapak program Post-Doc di Saga-U:
“Eh anak yang tinggi kacamata itu anak mana ya? Kok pakai baju batik ikut disitu?”
Jawab saya waktu itu: “Oh.. itu si S pak anak SPACE tahun ini, orang Indonesia juga kok pak”..

..dua pertanyaan ‘konyol’ dalam waktu hampir bersamaan, batinku.. hmm..koen.. pirang2 bulan barengan sa kuto gak saling kenal ngene rek.. sungguh… geli.com + miris.com

Cerita diatas itu hanya pengalaman pribadi saya, tapi saya yakin banyak diantara sesama rekan mahasiswa atau warga Indonesia di kota kecil Saga ini yang mempunyai kisah yang mirip. Bahwa sesama kita warga Indonesia tidak saling kenal, lalu tidak bertegur sapa ketika bertemu, apalagi sampai mau saling tolong menolong? deuh.. miris..

Pasti banyak diantara kita sesama WNI di Saga yang tidak tahu atau belum tahu bahwa di Saga ada warga Indonesia yang baru datang, bahwa bapak A atau ibu C sedang ada keluarganya datang berlibur di Saga, bahwa pak ini atau ibu itu sedang ada persoalan yang butuh bantuan atau minimal perhatian kita…

yah ini hanya sekedar potret dari salah satu efek ketiadaan organisasi Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Saga, sebuah kota kecil di Jepang. ‘Silutarahmi’ sebuah kata yang selalu diagung-agungkan, tapi inikah potret silaturahmi yang dimaksud??? Bukan sekedar silaturahmi sekelompok orang lalu mengabaikan kelompok lainnya meskipun sesama warga Indonesia?? jangan pakai paspor Republik Indonesia dengan stempel Garuda deh .. ūüôā

Nah berikut ini daftar efek kurang baik yang saya pribadi rasakan semenjak ketiadaan organisasi PPI:

– Tidak ada lagi jadwal main badminton rutin tiap minggu yang selama ini dikoordinir PPI. Jadi gak bisa olahraga rutin.. Kemarin aja ikut turnamen bola udah gak pakai nama PPI, tapi atas nama pribadi dan gabung dg temen2 mhs asing lain.

– Tidak ada yang mengkoordinir atau minimal mengingatkan untuk membuat laporan triwulan ke Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Indonesia di Tokyo Japan. Nah lo.. ada yg belum tau kan kalau kita harus buat laporan ke KBRI?

– Kita tidak pernah bisa kumpul2 bersama secara resmi, lalu mengadakan kegiatan bersama-sama atas nama Indonesia, karena tidak ada yang bertanggung jawab untuk mengadakan kegiatan-kegiatan atas nama Indonesia. Minimal kumpul sekali sekedar saling kenal antara warga baru dengan warga lama, itu pun tak ada .. jadi wajar jika sesama WNI di Saga tidak saling kenal. Yang ada sekarang adalah kumpul2 sendiri, grup-grupan, gak koncoan gak diajak atau gak oleh melok, dll..

– Tidak ada yang bertanggung jawab atas kedatangan warga Indonesia khususnya pelajar, di kota Saga ini. Ini bukan sembarang tanggung jawab, karena ini adalah tanggung jawab yang dibebankan oleh PPI Jepang, oleh KBRI, oleh DIKTI dan tentunya oleh NKRI!
(Kemarin sempat kedatangan bapak2 dan ibu2 dosen dr bbrp PT di Indonesia peserta Training JICA pun tidak ada acara penyambutan resmi dari warga RI di Saga)

– Tidak ada yang bertanggung jawab merespon, atau bahwa tidak ada tempat untuk bertanya, jika ada rekan-rekan dari Indonesia yang mau melanjutkan studi di Saga

Poin-poin diatas hanyalah beberapa hal mendasar yang harusnya tidak terjadi jika ada PPI sebagai organisasi resmi yang mengemban tanggungjawab tersebut. Lalu ketika hal-hal mendasar itu saja tak bisa terwujud, bagaimana kita mau berkreasi untuk turut membangun citra yang baik tentang bangsa kita, turut mempromosikan negara dan keragaman budaya kita?

Hmm.. syukur-syukur kemarin masih ada rekan2 yang mau iklas turut tampil sekedar menunjukkan bahwa ‘Indonesia’ masih ada dan bahwa negara kita punya beragam kebudayaan yang seharusnya dibanggakan dan dipromosikan ke warga Jepang.

—————————-

Saya cuma bisa membuat kesimpulan, bahwa ketiadaan organisasi diantara kita justru membuat kondisi pertemanan, rasa kebangsaan, kebersamaan, kekompakan warga Indonesia di Saga, menjadi relatif lebih buruk dari era sebelum organisasi tersebut dibekukan gak jelas seperti sekarang ini. (btw, apakah pembekuan itu sudah diakui oleh PPI Jepang sebagai organisasi induk??? lha kan PPI bukan punya saya dan punya sampeyan2.. kok sa enake dewe main bubar2 ngono..)

lalu.. seperti inikah yang ingin dicapai dari ketiadaan PPI itu?

[Jika ada yang merasa ketiadaan organisasi PPI di Saga adalah POSITIF, silahkan membuat tulisan sendiri dan ceritakan sisi posistifnya]

lalu.. seperti inikah yang ingin dicapai dari ketiadaan PPI itu?

Tags:

Peristiwa sekelompok mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam organisasi Persatuan Pelajar Indonesia Jepang Komisariat Saga (PPI Saga) yang sepakat membekukan organisasi PPI Saga bukan saja merupakan isu lokal tapi adalah isu internasional. Bagaimanapun organisasi bernama PPI adalah organisasi resmi perhimpunan mahasiswa Indonesia di negara asing, sehingga peristiwa pembekuan (non-aktif)   untuk jangka waktu tertentu akan menarik perhatian banyak pelajar Indonesia yang sedang studi di luar negeri.

Apa yang sebenaranya terjadi? Mengapa sampai harus dibekukan?

Tulisan berikut ini adalah interpretasi pribadi saya untuk memaparkan kronologis sehingga dicapai kesepakatan tersebut. Walaupun terus terang saja saya pun malu untuk menceritakan ini karena saya adalah juga (mantan) anggota PPI Saga. Dan tanpa bermaksud untuk mendiskreditkan siapa pun atau pun membela siapa pun. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya dari kejadian ini.

Saya datang di Saga, yang terletak di pulau Kyushu, selatan Jepang, Oktober 2008 untuk memulai program Doktor saya di Jurusan Information Science, Saga University. Kurang lebih 2 minggu kedatangan saya, diadakan acara LPJ (Laporan Pertanggungjawaban) pengurus PPI Saga periode sebelumnya dan sekaligus memilih ketua dan pengurus yang baru. Sebagai warga baru, saya dan rekan-rekan yang lain menaruh harapan pada organisasi ini bahwa kami bisa merasakan manfaat yang positif dengan menjadi anggotanya. Walaupun ada sedikit ‘persoalan lama’ tentang adanya anggota yang menyatakan non aktif dari PPI, secara umum kami menganggap tidak ada problem awal dalam organisasi ini.

Enam bulan awal periode kepengurusan PPI Saga yang baru kami lalui dengan berbagai kegiatan yang cukup menyita waktu disela-sela riset/studi kami masing-masing. Walaupun demikian rekan-rekan nampaknya bisa menikmati berbagai kegiatan tersebut. Sejumlah kegiatan yang pernah dilakukan PPI Saga misalnya: acara barbeque Sumpah Pemuda, mengikuti Bazar, menyelenggarakan Korda, sate party, hanami, dll.  Sejumlah rekaman fotonya bisa dilihat di note di facebook saya. Meski demikian sudah tampak kelelahan pada rekan-rekan akan berbagai kegiatan PPI, sehingga kemudian kegiatan organisasi menjadi berkurang bahkan cenderung pasif. Selain juga karena pengurus tidak segera merumuskan kegiatan apa lagi yang harus dilakukan.

Awal mula konflik terjadi, menurut saya, ketika pada bulan Mei 2009, miling list PPI Saga menjadi sangat ramai karena ada beberapa anggota yang meminta klarifikasi, laporan keuangan maupun respon dari pengurus. Tercatat lebih dari 350 email hilir mudik di milis pada bulan tersebut. Pernah dalam 1 hari bahkan hampir mencapai 100 email. Saya dan juga beberapa rekan sebagai warga merasa kaget, ada apa ini? apa benar yang dikatakan teman-teman di milis itu? apa memang pengurus ppi seperti yang ‘dituduhkan’ di milis?. Pengurus kemudian merespon, setelah telah terjadi pembentukan opini maupun (maaf) kata-kata yang bisa menyakiti perasaan seseorang terlontarkan di milis. Kasus ini kemudian berujung pada rapat konsolidasi yang disertai laporang keuangan dan klarifikasi dari pengurus, dan diakhiri dengan salam-salaman dan berpelukan. Situasi PPI menjadi tenang setelah konsolidasi yang berakhir hampir tengah malam tersebut.

Sempat hepi-hepi sejenak ketika kami atas nama PPI ikut dalam turnamen badminton di kampus dan sempat meraih juara 3 bahkan. Situasi PPI kembali panas pada bulan Juli 2009. Kondisi ini juga diawalai dari adanya email dari beberapa rekan yang mempertanyakan beberapa hal terkait ppi kepada pengurus. Hal-hal yang dipersoalkan diantaranya: pembuatan DPT (Daftar Pemilih Tetap) Pemilihan Ketua PPI Jepang (Pemira), dan tentang adanya anggota yang baru masuk lagi ke milis. Topik ini kembali menjadi ramai seperti kasus yang pertama. Ada rekan yang kemudian mengusulkan ide diadakan pemilihan ketua ppi saga (pilkomsat) dalam waktu yang bersamaan dengan pemira pada bulan agustus nanti. Hal ini yang memicu perdebatan baru yang berujung pada inisiatif rekan-rekan untuk mengumpulkan tanda tangan rekan-rekan lain yang setuju untuk mempercepat pilkomsat.

Saya tidak tahu persis apa kemudian yang terjadi atau yang menjadi penyebabnya ketika kemudian terjadi insiden diantara sesama warga ppi yang sempat menimbulkan kontak fisik serta rasa terintimidasi.

Sejumlah kejadian diatas membuat warga secara umum menjadi tidak simpatik dengan yang namanya ppi. Pertama warga merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang terjadi di milis. Dan kedua dengan adanya insiden yang tidak pantas terjadi diantara sesama mahasiswa dengan tingkat intelektualitas yang tinggi.

Pengurus PPI kemudian mengadakan forum rapat anggota dengan tema konsolidasi untuk membahas hal-hal yang terjadi dalam organisasi ini. Semua warga diberi kesempatan berbicara dan menyampaikan unek-uneknya. Salah satu opini yang menjadi acuan adalah: ppi tidak dapat melindungi keamanan warganya sehingga sebaiknya dibekukan saja. Forum akhirnya sampai pada kesepakatan apakah perlu dilakukan voting untuk menentukan apakah organisasi ppi ini diteruskan atau dibekukan. Voting pertama mayoritas (13 dari 19) menyatakan setuju untuk voting, dan voting kedua mayoritas (13 dari 19) menyatakan setuju untuk dibekukan. Forum kemudian mufakat untuk membekukan untuk jangka waktu 1 tahun periode kepengurusan, serta bagaimana selanjutnya untuk proses pembekuan organisasi dan pengaktifan kembali.

Dan sejak saat itulah PPI Saga tercatat dalam sejarah sebagai organisasi perhimpunan pelajar Indonesia yang membekukan organisasi mereka sendiri atas dasar kesepakatan bersama, dengan pertimbangan demi kebaikan ke depan dan mengilangkan segala dendam yang ada (?).

===============

Sebagai anak bangsa, saya sedih dan kecewa atas keputusan yang telah diambil dimana saya pun harus bisa menerima keputusan tersebut. Sedih karena kita seolah-olah bunuh diri, atau harakiri kata orang Jepang, kecewa karena kita tidak mampu menyelesaikan persoalan dengan tetap menjaga keutuhan organisasi. Saya mengibaratkan bahwa kita mencoba membunuh tikus di dalam rumah dengan membakar rumah kita.. maka kita pun ikut mati didalamnya.. (atau justru kita lari meninggalkan rumah tersebut sambil berkata, bukan rumahku aja kok.. biarin aja terbakar..)

=====

Dan sekali lagi, tanpa bermaksud mendiskreditkan siapa pun ataupun membela siapapun, ada hal-hal yang masih mengganjal dan tampak janggal bagi saya yaitu:

  1. Mengapa isu semula tentang mempercepat pilkomsat lalu berubah menjadi pembekuan organisasi?
  2. semua menggunakan alasan “ingin memperbaiki ppi ke depan” tetapi justru kita membuyarkan apa yang mau kita perbaiki?
  3. apakah¬†benar logika bahwa ¬†‘ ppi tidak mampu menjaga keselamatan warganya’¬† sehingga harus ‘dibekukan’? apakah dengan ppi dibekukan lalu keselamatan kita otomatis juga terjamin?
  4. Mengapa alasan ‘masa lalu’ membuat kami yang ‘masa kini’ ikut menjadi korban? korban karena kami masih mau berorganisasi dengan sehat tanpa diracuni alasan2 klasik ‘masa lalu’
  5. siapa yang akan bertanggung jawab secara formal untuk membantu atas kedatangan mahasiswa baru di Saga nanti?
  6. siapa yang bertanggung jawab mengkoordinir kita sesama warga Indonesia untuk kegiatan2 atau acara2 yang terkait dengan bangsa kita, seperti 17an, pemira, hari-hari besar, dll. (atau memang kita sudah –dont care-)

hmm.. banyak hal yang mengganggu pikiran saya karena kejadian hari ini, saya menulis ini semua untuk melepaskan apa yang ada di pikiran saya, supaya saya bisa tetap fokus pada penelitian saya besok..

Semoga masih ada semangat kekeluargaan dan semangat Indonesia Raya dalam diri kita wahai saudaraku sesama anak bangsa di negeri orang. Dan tidak ada rasa kecurigaan, kecemburuan maupun kedengkian di antara kita.

semua kembali kepada niat.. Wallahualam..

(Sagashi, 12 Juli 2009)


Arsip Postingan

Internet Sehat

Internet Sehat

Visitor

Bisnis mudah di Internet

Mau Nonton Film?

ayocarilogomovie

Pengen Punya Domain sendiri???

CO.CC:Free Domain

Blog Stats

  • 50,237 hits

Flickr Photos

Come back here!

Sky on fire

Northern harriers and kung fu fighting

More Photos

EnsikloNesia