Emang Blog

6 Bulan yang Memalukan Tanpa PPI di SAGA

Posted on: January 14, 2010

Saya jadi pengen nulis ini setelah baru-baru ini mendengar 2 buah statemen setengah bertanya yang sangat menggelikan, polos tetapi memilukan, yang terucap dari dua orang berbeda langsung kepada saya.

Pertama, dari salah satu anak SPACE (semacam program pertukaran pelajar):
“Lho Pak F itu orang Indonesia ya? Saya kirain orang Malaysia, soalnya kalau ketemu pas pakai peci terus”.. wakakakakak.. kamu udah 6 bulan disini gak tau kalau beliau itu orang Indonesia? deuh.. KDL..

Kedua, dari salah satu bapak program Post-Doc di Saga-U:
“Eh anak yang tinggi kacamata itu anak mana ya? Kok pakai baju batik ikut disitu?”
Jawab saya waktu itu: “Oh.. itu si S pak anak SPACE tahun ini, orang Indonesia juga kok pak”..

..dua pertanyaan ‘konyol’ dalam waktu hampir bersamaan, batinku.. hmm..koen.. pirang2 bulan barengan sa kuto gak saling kenal ngene rek.. sungguh… geli.com + miris.com

Cerita diatas itu hanya pengalaman pribadi saya, tapi saya yakin banyak diantara sesama rekan mahasiswa atau warga Indonesia di kota kecil Saga ini yang mempunyai kisah yang mirip. Bahwa sesama kita warga Indonesia tidak saling kenal, lalu tidak bertegur sapa ketika bertemu, apalagi sampai mau saling tolong menolong? deuh.. miris..

Pasti banyak diantara kita sesama WNI di Saga yang tidak tahu atau belum tahu bahwa di Saga ada warga Indonesia yang baru datang, bahwa bapak A atau ibu C sedang ada keluarganya datang berlibur di Saga, bahwa pak ini atau ibu itu sedang ada persoalan yang butuh bantuan atau minimal perhatian kita…

yah ini hanya sekedar potret dari salah satu efek ketiadaan organisasi Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Saga, sebuah kota kecil di Jepang. ‘Silutarahmi’ sebuah kata yang selalu diagung-agungkan, tapi inikah potret silaturahmi yang dimaksud??? Bukan sekedar silaturahmi sekelompok orang lalu mengabaikan kelompok lainnya meskipun sesama warga Indonesia?? jangan pakai paspor Republik Indonesia dengan stempel Garuda deh ..🙂

Nah berikut ini daftar efek kurang baik yang saya pribadi rasakan semenjak ketiadaan organisasi PPI:

– Tidak ada lagi jadwal main badminton rutin tiap minggu yang selama ini dikoordinir PPI. Jadi gak bisa olahraga rutin.. Kemarin aja ikut turnamen bola udah gak pakai nama PPI, tapi atas nama pribadi dan gabung dg temen2 mhs asing lain.

– Tidak ada yang mengkoordinir atau minimal mengingatkan untuk membuat laporan triwulan ke Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Indonesia di Tokyo Japan. Nah lo.. ada yg belum tau kan kalau kita harus buat laporan ke KBRI?

– Kita tidak pernah bisa kumpul2 bersama secara resmi, lalu mengadakan kegiatan bersama-sama atas nama Indonesia, karena tidak ada yang bertanggung jawab untuk mengadakan kegiatan-kegiatan atas nama Indonesia. Minimal kumpul sekali sekedar saling kenal antara warga baru dengan warga lama, itu pun tak ada .. jadi wajar jika sesama WNI di Saga tidak saling kenal. Yang ada sekarang adalah kumpul2 sendiri, grup-grupan, gak koncoan gak diajak atau gak oleh melok, dll..

– Tidak ada yang bertanggung jawab atas kedatangan warga Indonesia khususnya pelajar, di kota Saga ini. Ini bukan sembarang tanggung jawab, karena ini adalah tanggung jawab yang dibebankan oleh PPI Jepang, oleh KBRI, oleh DIKTI dan tentunya oleh NKRI!
(Kemarin sempat kedatangan bapak2 dan ibu2 dosen dr bbrp PT di Indonesia peserta Training JICA pun tidak ada acara penyambutan resmi dari warga RI di Saga)

– Tidak ada yang bertanggung jawab merespon, atau bahwa tidak ada tempat untuk bertanya, jika ada rekan-rekan dari Indonesia yang mau melanjutkan studi di Saga

Poin-poin diatas hanyalah beberapa hal mendasar yang harusnya tidak terjadi jika ada PPI sebagai organisasi resmi yang mengemban tanggungjawab tersebut. Lalu ketika hal-hal mendasar itu saja tak bisa terwujud, bagaimana kita mau berkreasi untuk turut membangun citra yang baik tentang bangsa kita, turut mempromosikan negara dan keragaman budaya kita?

Hmm.. syukur-syukur kemarin masih ada rekan2 yang mau iklas turut tampil sekedar menunjukkan bahwa ‘Indonesia’ masih ada dan bahwa negara kita punya beragam kebudayaan yang seharusnya dibanggakan dan dipromosikan ke warga Jepang.

—————————-

Saya cuma bisa membuat kesimpulan, bahwa ketiadaan organisasi diantara kita justru membuat kondisi pertemanan, rasa kebangsaan, kebersamaan, kekompakan warga Indonesia di Saga, menjadi relatif lebih buruk dari era sebelum organisasi tersebut dibekukan gak jelas seperti sekarang ini. (btw, apakah pembekuan itu sudah diakui oleh PPI Jepang sebagai organisasi induk??? lha kan PPI bukan punya saya dan punya sampeyan2.. kok sa enake dewe main bubar2 ngono..)

lalu.. seperti inikah yang ingin dicapai dari ketiadaan PPI itu?

[Jika ada yang merasa ketiadaan organisasi PPI di Saga adalah POSITIF, silahkan membuat tulisan sendiri dan ceritakan sisi posistifnya]

lalu.. seperti inikah yang ingin dicapai dari ketiadaan PPI itu?

Tags:

2 Responses to "6 Bulan yang Memalukan Tanpa PPI di SAGA"

Apakah kondisi teman-teman disana sekarang lebih baik? Setelah periode april ini.

kriteria ‘lebih baik’ disini paramater nya apa mas?
saya tidak bisa bilang lebih baik atau lebih buruk, tetapi meminjam istilah si Warsidi, “pokoknya ada yang beda aja”..

tapi kalau saya pribadi rasanya kok tidak menemukan kebersamaan “Indonesia” lagi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip Postingan

Internet Sehat

Internet Sehat

Visitor

Bisnis mudah di Internet

Mau Nonton Film?

ayocarilogomovie

Pengen Punya Domain sendiri???

CO.CC:Free Domain

Blog Stats

  • 49,038 hits

Flickr Photos

Sol Duc Falls

Back to forest

Prairie Falcon 2016

More Photos

EnsikloNesia

%d bloggers like this: