Emang Blog

PRESSING DAN COOLING DOWN

Posted on: August 22, 2008

Tindakan bentakan yang selama ini diistilahkan dengan pressing, merupakan tradisi lama di FTUB yang hingga hari ini masih terjadi. Seperti yang telah saya tulis di postingan sebelumnya, kali ini ingin saya lanjutkan tentang aspek psikologis pressing dan kaitannya dengan cooling down.

Saya bukan psikolog dan tidak pernah belajar khusus ilmu ini, saya hanya mencoba menjabarkan aspek psikologis pressing berdasarkan pemahaman saya baik itu dari hasil diskusi, pengalaman terlibat langsung dan “just an intuitive“.

Mungkin ada yang lebih paham ilmu ini bisa ikut berkomentar atau bahkan membantah komentar dan hipotesis saya ini.

Esensi dari pressing adalah proses untuk memberi tekanan mental pada maba, kenapa harus diberi tekanan mental, sedikit banyak juga sudah saya sampaikan bahwa ini salah satu pemodelan kondisi yg bakal dihadapi dalam perkuliahan di FTUB. Tapi ada satu esensi lagi yang harus dipahami, bahwa pressing adalah ‘pengkondisian’ untuk membuat kondisi psikologi maba berada pada titik terendah, dimana dia merasa bukan siapa-siapa (meghilangkan semua atribut, apakah dia anak siapa, apakah dia punya prestasi apa, apakah dia dari sma mana), kondisi ini perlu diciptakan agar maba tidak menjadi jumawa, sombong, angkuh dan sebagainya. Kondisi itu perlu dicipatakan agar maba merasa satu nasib, merasa sama-sama susah (kondisi ini didukung juga dengan aturan penggunaan seragam, tas kresek biru, dan perlengkapan yg harus dibawa).

Kondisi psikologis yang berada pada titik terrendah, dimana seseorang merasa dia bukan siapa-siapa, tidak lebih baik dari orang lain, itu adalah kondisi yg harus diciptakan untuk memudahkan seseorang bisa menerima masukan atau materi dari orang lain. Ini esensi penting proses pembinaan di FTUB, dimana sebelum sesi materi harus diawali dulu dengan pressing. Semoga saja esensi dan urgensinya dipahami dengan baik oleh para senior/panitia.

Ketika maba sudah merasa ‘down’, maka proses pemberian materi diharapkan dapat diterima oleh maba dengan hati yang lapang, dengan tanpa pretensi dan keinginan untuk ngobrol atau kisruh. Untuk menjadi pemateri atau seorang yg bertugas memberi cooling down juga tidak mudah, dia harus bisa bersikap netral, tidak ikut-ikutan menyalahkan maba dan tidak perlu ‘membenarkan’ atau ‘menyalahkan’ tindakan senior. Justru semestinya dia harus mampu memberikan argumentasi dengan kalimat-kalimat yang memotivasi maba dan memberikan analogi-analogi positif dari kaitannya proses pembinaan dengan kondisi real di teknik.

Saya tidak tahu persis apakah sekarang maba dibiarkan menyimpulkan sendiri atau ada sesi dimana seseorang pemateri diberi kesempatan menyampaikan suatu kesimpulan dari keseluruhan proses tsb. Tetapi menurut saya pribadi sebaiknya maba jangan dibiarkan mencari kesimpulan sendiri, mereka masih butuh orang lain (dalam hal ini pemateri atau tim cooler) yang membuat satu argumentasi kesimpulan dari proses tsb. Maba harus diberi jawaban, kenapa mereka dibentak, kenapa mereka harus lari pagi, kenapa mereka harus senam pagi, kenapa mereka harus berbaris rapi dan tertib, kenapa mereka harus menerima hukuman kalau berbuat salah, kenapa tidak boleh bawa handphone, kenapa rambut harus rapi dan cepak, kenapa harus teriak 1..2..3…teknik, .

Teknik mengagung-agungkan ‘logika’ dan ‘nalar’ sehingga semua proses yang dilakukan harus ada alasan logisnya. Semua harus ada jawaban atas pertanyaan mengapa harus ini harus itu, harus bawa ini bawa itu.

Itulah mengapa ospek teknik gak pernah harus pakai pakaian aneh-aneh, atribut lucu-lucu, hukuman-hukuman yang fun (joget, nari, nyanyi2, dll) atau tugas untuk mencari barang yang aneh-aneh dan sulit ditemukan, ya buat apa gitu lo..?

Just sharing an opinion, it’s not the concept that run in the Teknik PK2 process this year.🙂

Tags:

3 Responses to "PRESSING DAN COOLING DOWN"

kayaknya konsep yang diterapkan dari tahun ke tahun juga hampir mirip koq pak, cuman penekanannya aja yang berbeda tiap tahunnya, entah di kepedulian, kebersamaan, atau inisiatifnya.

mungkin yang bermasalah sekarang adalah panitia sendiri kurang memahami konsep yang ada, sehingga kadang kesulitan untuk menjawab logika dari aturan yang mereka terapkan😀

yah, begini lah konsep di Indonesia, masih mencerminkan sikap senioritas, jadi mungkin sudah menjadi tradisi kali yah pak

heheheheh Iki seng ngospek aku biyen … muakakakakak
Jane kudune konsep Ospek iku simpel kok
tapi mergo kebanyakan berteori lengkap dengan tetek bengek referensi akhir e malah banyak yg ga ngerti
Tapi buat aku Ospek iku tetep perlu kok, persetan dengan yg namanya dialogis, kebersamaan, pemberdayaan… kuliah itu bertahun-tahun, masih banyak waktu untuk hal2 itu
tapi selama waktu ospek yg cuma beberapa hari maka yg ada adalah dekonstruksi total terhadap pemikiran dan kebiasaan, memang mirip brainwashing tapi itulah yg disebut dengan pengkondisian..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip Postingan

Internet Sehat

Internet Sehat

Visitor

Bisnis mudah di Internet

Mau Nonton Film?

ayocarilogomovie

Pengen Punya Domain sendiri???

CO.CC:Free Domain

Blog Stats

  • 49,038 hits

Flickr Photos

Sol Duc Falls

Back to forest

Prairie Falcon 2016

More Photos

EnsikloNesia

%d bloggers like this: