Emang Blog

Mimpi dan Judi dibalik Kontes Adu Bakat [1]

Posted on: April 9, 2008

Akhir-akhir kembali marak di berbagai stasiun TV acara-acara pemilihan idola atau kontes-kontes bakat yang menggunakan polling SMS masyaratak sebagai salah satu acuan penilaiannya. Hampir setiap hari layar kaca kita dihiasi acara seperti ini. Mulai dari Kontes Idola Cilik, Indonesian Idol, AFI Junior, Mamamia Show, Stardut, Kontes Dangdut Indonesia, Audisi Pelawak TPI (API), dan masih banyak lagi yang lain. Terkadang acara-acara tersebut menyita waktu pemirsa cukup banyak, bahkan ada yang sampai 6 jam. Acara kontes bakat seperti ini disatu sisi adalah posistif untuk memberikan peluang kepada generasi muda untuk menunjukkan bakat dan kreatifitas mereka, memberi kesempatan anak bangsa untuk mengaktualisasi diri. Jauh lebih baik daripada tidak ada media berkreasi yang mungkin saja membuat generasi muda harapan bangsa hanya terjebak kepada narkoba maupun perilaku negatif lainnya. Tetapi disadari atau tidak, acara-acara tersebut juga mempunyai pengaruh yang kurang baik masyarakat. Ada dua hal yang menurut  hemat saya merupakan dampak negatif dari penyelenggaraan kontes tersebut, yaitu membuai masyarakat dengan mimpi menjadi selebriti dan adanya unsur judi dibalik polling SMS.

Cita-citaku Menjadi Selebriti

Pengaruh media Televisi sudah sangat luar biasa bagi masyarakat kita. Menjamurnya acara infotainment dan ajang kontes-kontes idola membuat masyarakat kita silau oleh gemerlapnya kehidupan artis, selebritis atau mereka-meraka yang sering diekspos di TV. Berbagai ajang kontes idola yang ada telah membuai masyarakat kita bahwa menjadi selebritis adalah suatu idaman. Sering muncul di TV, dikenal masyarakat luas, dikejar-kejar untuk dimintai tandatangan atau foto bersama, merupakan sesuatu hal yang membanggakan bagi sebagian masyarakat kita. Lihat saja berapa banyak orang tua, entah bapak atau ibunya, yang beserta anaknya, mendaftar acara kontes MamaMia Show atau Stardut. Jelas bahwa orangtua sangat mendukung dan mengarahkan anak mereka untuk menjadi ‘artis’. Tidak sedikit juga mereka yang gagal audisi kemudian menjadi sangat sedih atau uring-uringan kepada juri. Hal itu hanya mempertegas fakta bahwa menjadi finalis dan masuk tivi adalah segala-galanya bagi mereka.

Kondisi paling parah adalah ketika anak-anak kita ditanyai cita-citanya, mereka menjawab bahwa cita-citanya adalah menjadi artis dan masuk tipi. Alangkah luar biasanya tv telah merubah pola pikir dan cara pandang masyarakat bahkan merasuk ke anak-anak. Saya tidak menyatakan bahwa menjadi artis itu salah, tidak, karena itu adalah pilihan hidup dan setiap orang berhak menentukan pilihan hidupnya. Tetapi yang harus dipahami adalah bahwa kehidupan artis sesungguhnya tidaklah segemerlap apa yang tampak di TV. Tidak sedikit popularitas yang dimiliki seorang artis membuat dia tidak mampu mengendalikan diri dan kemudian terjebak perilaku negatif seperti narkoba dan seks bebas.

Tahukan anda kehidupan seperti apa yang dijalani para mantan finalis ajang kontes-kontes tersebut? Beberapa diantaranya mungkin sukses dan semakin meningkat karirnya. Misalnya yang kita masih lihat di TV sampai hari ini seperti Delon yang jebolan Indonesia Idol, Siti KDI, T2 finalis AFI 2005, dan Sule yang juara API. Mereka termasuk yang mampu bertahan, berkembang dan bisa kita katakan bahwa kesuksesan mereka berpengaruh kepada perbaikan ekonomi keluarga mereka. Tapi tidak sedikit juga mantan finalis yang kemudian tidak menjadi siapa-siapa, sudah dilupakan orang, susah mendapat job karena memang kemampuan mereka pas-pasan, hanya tinggal di kost-an murah,  dan yang lebih parah lagi ada yang terlilit hutang karena dulu memaksakan untuk mengirim SMS sebanyak-banyaknya. Banyak diantara mereka yang ketika mengikuti kontes sampai harus mengorbankan sekolah atau kuliah, dan sekarang baru menyesal bahwa pendidikan mereka menjadi sia-sia. Mungkin sangat menarik jika ada stasiun TV yang mau membuat acara yang mengekspos juga bagaimana kehidupan mantan peserta ajang kontes tersebut.

Dalam kondisi keterpurukan bangsa, ketika pemerintah juga belum menunjukkan upaya-upaya yang signifikan dan konkret untuk memperbaiki tingkat kehidupan masyarakat, maka menjadi artis telah dianggap sebagai jalan keluar mengatasi himpitan kehidupan saat ini. Pada perspektif ini, masyarakat tidak dapat disalahkan, justru pemerintah harus memahami ini dan harus bisa mencegah semakin kelirunya pemahaman masyarakat. Kementrian yang mengurusi media seperti Kementrian Kominfo dan juga Departemen Pendidikan harus juga melakukan sosialisasi dan pembelajaran kepada masyarakat bahwa menjadi artis bukan lah segala-galanya, bahwa menjadi berprestasi di sekolah, berprestasi dalam bidang olahraga dan seni adalah juga penting. Pemerintah harus membuat aturan yang tegas bahwa ajang kontes tersebut tidak boleh memaksa pesertanya untuk mengorbankan pendidikan mereka, sekolah atau kuliah. Sebenarnya sederhana saja, pemerintah harus membuat aturan bagi penyelenggara bahwa proses audisi dan final tidak boleh memaksa pesertanya untuk harus bolos sekolah atau cuti kuliah. Persoalannya mau tidak pemerintah berhadapan dengan kepentingan media yang ingin acaranya harus disiarkan setiap hari atau peserta yang harus dikarantina yang kehidupan dalam karantina itu juga dijadikan acara TV tersendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip Postingan

Internet Sehat

Internet Sehat

Visitor

Bisnis mudah di Internet

Mau Nonton Film?

ayocarilogomovie

Pengen Punya Domain sendiri???

CO.CC:Free Domain

Blog Stats

  • 49,038 hits

Flickr Photos

Sol Duc Falls

Back to forest

Prairie Falcon 2016

More Photos

EnsikloNesia

%d bloggers like this: